Belajar Bahasa Sambil Menjaga Bumi: Eco-English Bersama PGRI Pontianak di SMPN 17 Singkawang
Singkawang, 7 November 2025 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas PGRI Pontianak melalui Fakultas Bahasa, Seni, dan Kejuruan, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMP Negeri 17 Singkawang dengan mengangkat tema “Eco-English: Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Isu Lingkungan Hidup Lokal.” Program ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi Tim PKM yaitu para dosen dan mahasiswa dalam mengintegrasikan pendidikan bahasa dengan upaya peningkatan kesadaran lingkungan hidup di lingkungan sekolah.
Latar belakang program ini muncul dari perhatian serius terhadap tantangan kebersihan serta sistem pengelolaan limbah di area sekolah. Kondisi lingkungan yang bersih dan terjaga tidak sekadar memberikan rasa nyaman saat belajar, melainkan juga turut membentuk cara pandang dan perilaku siswa terhadap kelestarian alam. Berangkat dari pemikiran tersebut, Tim PKM mengembangkan model pembelajaran yang menyatukan kemampuan komunikasi bahasa Inggris dengan tindakan nyata dalam melestarikan lingkungan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa terlibat langsung, bukan hanya mendengarkan konsep di atas kertas.
Pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi dua fase yang terstruktur. Fase awal berlangsung di ruang kelas, Tim PKM mengenalkan beragam kosakata, frasa, dan struktur kalimat bahasa Inggris yang relevan dengan tema lingkungan, antara lain green, save earth, reuse, compost, sort waste, eco-friendly, dan berbagai istilah terkait lainnya. Materi disampaikan melalui pendekatan yang menyenangkan, termasuk permainan edukatif menggunakan kartu kata, sesi tanya jawab interaktif, dan latihan dialog antar siswa. Strategi ini bertujuan agar siswa tidak hanya menguasai vocabulary, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk menerapkan bahasa Inggris dalam konteks kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.

Fase berikutnya adalah kegiatan praktik di luar kelas yang melibatkan pengamatan kondisi nyata dan gerakan peduli lingkungan. Para siswa diajak berkeliling area sekolah untuk mencermati situasi kebersihan, mendata berbagai macam limbah yang mereka temui, dan berdiskusi tentang pengaruhnya bagi kesehatan serta kenyamanan lingkungan belajar mereka. Dilanjutkan dengan praktik langsung bersama Tim PKM dalam memisahkan sampah sesuai jenisnya—organik dan non-organik. Aktivitas lapangan ini memberikan pemahaman konkret tentang pentingnya tanggung jawab kolektif dan kebiasaan mengelola sampah dengan benar sejak dini.
Selama program berjalan, terlihat jelas semangat dan partisipasi aktif dari para siswa. Mereka dengan antusias mengajukan pertanyaan, berusaha mempraktikkan kata-kata baru dalam komunikasi bahasa Inggris yang sederhana, dan berkolaborasi dengan kompak untuk mensukseskan aksi kebersihan lingkungan. Tim PKM juga menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan gagasan dan pandangan mereka mengenai strategi menjaga kebersihan sekolah yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Keterlibatan aktif ini menunjukkan bahwa pesan kepedulian lingkungan telah mulai meresap dan diharapkan terus dipraktikkan setelah kegiatan ini berakhir.
Hal yang patut dicatat adalah bahwa program ini tidak hanya membawa manfaat bagi para siswa, tetapi juga mempererat hubungan kolaboratif antara institusi pendidikan tinggi dengan sekolah menengah. Pihak SMPN 17 Singkawang memberikan respons positif dan menyambut baik inisiatif Tim PKM sebagai kontribusi nyata untuk pengembangan kepribadian siswa yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Di penghujung acara, Tim PKM menyerahkan sejumlah alat bantu pembelajaran, laporan dokumentasi kegiatan, materi edukasi visual, dan tanda mata kepada pihak sekolah sebagai wujud apresiasi atas kemitraan dan sambutan luar biasa yang telah diberikan.
Lewat program Eco-English ini, Tim PKM Universitas PGRI Pontianak menegaskan visinya bahwa pengajaran bahasa dapat berperan sebagai wahana pembelajaran nilai yang relevan dan berdampak. Bahasa Inggris bukan hanya diposisikan sebagai kemampuan akademis semata, melainkan juga sebagai sarana untuk menginternalisasi nilai-nilai baik, membentuk karakter peduli, dan menggerakkan aksi konkret dalam pelestarian alam. Diharapkan program ini mampu menjadi katalis tumbuhnya praktik-praktik positif yang berkesinambungan di lingkungan siswa, serta menguatkan pemahaman bahwa kecintaan pada lingkungan diawali dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan konsisten dan penuh kesungguhan.
Dengan kata lain, Eco-English bukan semata-mata aktivitas pembelajaran bahasa asing, melainkan sebuah gerakan edukatif yang mendorong siswa untuk mengasah kemampuan berpikir, mengekspresikan gagasan, dan mewujudkan tindakan nyata demi terciptanya lingkungan sekolah yang lebih asri, sehat, dan lestari untuk masa mendatang.
